Proses Belajar Bukan seperti Bikin Mie Instan

Mungkin teman teman yang suka belajar sesuatu di Youtube, nonton konten konten insprasional, toko toko yang sukses, atau nangkap informasi yang bermanfaat untuk kamu, setiap hari selalu aja ada yang baru, sekarang pertanyaannya apakah itu termasuk pembelajaraan untuk kita

Istilah sekarang learning hack, gak heran kan platform pendidikan sekarang, pengennya interaktif, biar menyemangati anak anak sekolah belajar enak.

Mungkin tulisannya @giansegato berkata tidak demikian

Learning is what turns information consumption into long-lasting knowledge. The two things are different: while information is ephemeral, true knowledge is foundational. If knowledge were a person, would be its picture

Jadi proses belajar komitmennya 10 kali lipat, lebih dari sekedar menyerap informasi di Youtube, gimana prakteknya, mungkin sampai pergi ke negara Hong Kong, cuma mau dapetin jawaban satu pertanyaan.

Aku aja bisa achieve Running 21Km, butuh setengah tahun percobaan, coba pelan pelan dulu, 5Km, pace-nya selambat lambat mungkin, rasain dan nahan sakitnya di kaki, sampai kebiasaan tersebut sudah di luar pikiran ku.

In other words, it compounds.

See now why it's so hard to learn? To learn anything we must make active use of unexplored regions of our brain before they're ready. It's, quite literally, getting out of the comfort zone. The more we use them, the more they get better. Learning is structually hard

Memang susah bro sis, apalagi kalau di awal awal. Ini aja di pagi ini aku menulis ini, aku mencoba mengubah struktur layout offline library-nya di aplikasi Kurva, 3 minggu lebih belum kesampaian goal-ku, masih ngotak ngatik coding Swift, masih banyak tanda peringatan kuning yang belum kelarkan fungsi eksekusi-nya. Versi baru belum kesampaian.

Lagi lagi konsistensi itu penting bos

ingat zaman SD dulu, lomba menggambar portrait ibu Kartini, dua hari sebelum lomba, latihan berkali kali, sampai hari lomba, kita juara satu

Jadi di tulisan-nya giansegato, kita harus luruskan definisi digital learning saat ini. Tidak sekedar menangkap informasi, nonton video di platform learning favorit kalian, masalahnya sekarang kita Browsing, baca artikel satu, udah pindah ke tab lain, gak sampai lima menit, dari judulnya kelihatan menarik untuk dipelajari, gak sampai satu paragraf, ujung ujungnya pengen nonton Youtube.

The process takes a lot of time and effort, which means it's not something I can afford to do with every piece of content I find online. Most of the time I trash the links I find, upon further review. Sometimes they end up in my learning wish list

The core idea is trying my best to not kid myself: when my engagement with a piece of content is active and effortful then it's learning, when it's passive it's entertainment. When I create I learn. When I consume I just relax.

Proses belajar itu, kalau di pikiran tu rasa-nya sampai udah titik manas, rasa-nya urat di otak itu benar benar tegang, terus di alat kelamin kita rasa-nya gelisah, berarti kamu lagi proses belajar, raga jasmani dan jiwamu lagi seperti manusia sesat di hutan.

Kadang kan kita setiap hari browsing browsing aja, lihat pencapaian orang dalam satu artikel, terus kita penasaran, gak sampai 10% komitmen-nya, udah nyerah aja, ganti yang lain, tipe tipe penikmat mie instan berarti ini.

Untuk diriku sendiri dan yang membaca ini, komitmen-nya sepuluh kali lipat, apapun itu pencapaian kamu.

Sengaja ditulis, biar sadar diri

Source: @giansegato - How to Learn Better in the Digital Age

Published