Visa dan Mastercard gak pernah ketinggalan kereta

Tulisan ini membahas penelusuran dari kolumn-nya scuttleblurb, ini pertama kali aku mengenal jurnal-nya dari pembahasannya Visa dan Mastercard, tulisan tulisan-nya banyak membahas secara detail tentang spesifikasi perusahaan perusahaan global, bacaan rekomended untuk para investor dan bisnis riset

Di sini membahas kenapa Visa dan Mastercard dari perjalanannya, gak pernah ketinggalan era, apapun itu inovasi fintech financial technology yang sedang naik daun, Visa dan Mastercard bisa aja sewakan gerbong kereta, dengan kapasitas bisnis class

Jadi kita bagi beberapa segmen bisnis fintech, yang bikin Visa dan Mastercard, kedua perusahaan Amerika ini sudah terbiasa dengan gejolak inovasi secara global.

Digital Wallets #

Misalnya aplikasi digital wallet menawarkan layanan kartu kredit, kalau gak cemplongkan logo Visa atau Mastercard, mereka gak akan di-cap istimewa brand digital wallet-nya sendiri, aplikasi mereka belum tentu dapat kepercayaan, konsumen belum tentu merasa aman ber-transaksi, konsumen juga ingin nampak berkelas di dompetnya.

Today every major digital wallet and bank I can think of – including Cash App, PayPal, Apple, Venmo, Grab Pay, MercadoPago, Monzo, etc. – embeds or issues Visa or Mastercard credentials. It’s easy to see why. Consumers want the assurance of knowing they can spend at just about any merchant around the world, online and offline, and earn interchange-funded rewards along the way. A digital wallet that didn’t plug into card rails would soon find themselves at a steep disadvantage to competing wallets that did.

Buy Now Pay Later (BNPL) #

Open BNPL is early but catching on, with Visa recently reporting triple digit volume growth and Affirm's virtual card revenue accounting for 18% of revenue, up from 12% a year ago

Alasan pertama kenapa platform aplikasi BNPL, fintech, mengadopsi Visa dan Mastercard, karena Partner Merchant akan tertarik masuk untuk bergabung

Platform PayLater kan butuh Seller juga untuk ramaikan marketplace-nya, apalagi yang branded seperti Nike atau Zara misalnya, mereka belum tentu ingin bergabung platform PayLater kalau gak ada kredensial seperti Visa dan Mastercard

Jadi aplikasi Fintech Pinjol atau PayLater akan mudah menjangkau pasar dunia dengan berpartner dengan Visa dan Mastercard.

Yang jadi keuntungan buat Visa dan Mastercard, Provider BNPL membuatkan virtual credit untuk partner penjual dan konsumen membayar dengan kartu debit, otomatis kan Visa dan Mastercard ambil keuntungan dua kali.

But in the increasingly common scenario where the BNPL provider settles with the merchant through virtual cards and the consumer pays off BNPL balances with debit, Visa and Mastercard make money twice on the same purchase. As with digital wallets, BNPLs may ultimately reinforce rather than disintermediate the card networks.

Yang awalnya BNPL sebagai awal baru tidak tergantung dengan Visa dan Mastercard, justru malah memperkuat.

Crypto #

Visa dan Mastercard juga gak mau ketinggalan hype-nya Crypto. Kartu debit Coinbase menggunakan jaringan Visa, misalnya meng-konversi balance Crypto kamu ke currency di negara berlaku setelah kamu bayar debit ngopi di Starbucks

There is no contradiction here. In owning ubiquitous payment infrastructure, the card networks can absorb frontier payments technologies without bearing much risk, adjusting their investment based on how things play out.

Karena jaringan finansial mereka sudah besar, tentu mereka bisa menyentuh apapun inovasi seperti Crypto, tapi Visa dan Mastercard bisa mengambil potensi di sini, walaupun orang banyak berasumsi Crypto hanya hype aja, tapi mereka bisa membuatnya kelihatan essential.

Real-time payments #

Kalau di Indonesia, kita kan punya-nya GPN. atau QRIS. Gimana pemerintah Indonesia bisa memfasilitasi pembayaran, misalnya dari akun bank lokal satu ke bank lainnya. Negara negara lain juga memiliki sistem yang sama. Di Jepang, namanya Zengin, Di Malaysia, MEPS, Di India, UPI, Unified Payment Initiative. Bahkan di United States sendiri, juga ada, nama-ya FedNow

Yang jadi pertanyaan, kenapa Visa dan MasterCard masih bisa tumbuh besar bersaing dengan jaringan lokal setiap negara?

By integrating their card networks to alternative rails, Visa and Mastercard have positioned themselves as a global payments router, replacing unwieldy bilateral connections with a single hub that spokes out to billions of bank accounts and card credentials, accommodating a wide range of different payment flows: P2B, B2B, and P2P via card-to-account, account-to-account, and card-to-card.

Pertama, Mastercard dan Visa masih nempel di kebanyakan pemegang kartu kredit dan debit. Ini kelebihan mereka, jadi bukan ancaman bagi mereka oleh sistem payment buatan pemerintah negara masing masing. Bahkan mereka menggaet-nya, Maastercard mengakusisi perusahaan Transfast, yang melayani payment cross-border sistem antara negara. Visa mengakusisi Eartport, sebagai fasilitator pembayaran untuk integrasi sistem payment lokal di setiap negara

Yang jenius-nya di sini, misalnya orang Malaysia menggunakan kartu Visa-nya untuk membeli tas Louis Vuitton, yang toko-nya hanya menerima jaringan pembayaran lokal dari Malaysia, setelah charge berhasil Visa langsung integrasi dengan layanan cross-border payment. Bagaimana kalau kebalikannya, belum tentu bisa, jaringan lokalnya belum tentu punya integrasi cross-border payment.

Kalau di Asia tenggara. negara negara ASEAN bekerja sama, agar satu sama negara lain bisa menerima pembayaran di luar, seperti bayar jajanan di pinggiran jalan Thailand lewat bayar QRIS, atau orang Singapore mau belanja di Bali, gunain PayNow

Jadi agar mereka diperlakukan spesial, Visa dan Mastercard menawarkan "Value-added services, keamanan transaksi lebih ketat, pelanggan terjamin aman, mendeteksi penipuan atau transaksi fiksi, mereka juga menawarkan marketing dan analisa pasar, misalnya memperlihatkan betapa benefit Merchant menerima Visa atau Mastercard, yang sudah punya jutaan pengguna, dibanding dengan partner payment network lainnya, terutama milik pemerintah yang masih genjot dekatin rakyatnya, biar pakai lokal.

Value-added services #

Tapi itu masih permulaan

Like you know that Visa and Mastercards are tricked out with NFC technology that allow shoppers to tap-to-pay with them in much the same way they would with smartphones? More than half of all face-to-face Visa transactions (~30% in the US, 70% everywhere else) are now contactless.

Fitur kecil aja nempel di Smartphone, teknologi NFC di hape hape sekarang, tinggal Tap Tap, biar cepat transaksi, hanya untuk segelas Boba gula aren, bikin tumbuh performa bisnis Visa dan Mastercard besar besaran

Lagian, Mastercard dengan Visa bukan lagi logo berkelas nempel di kartu ATM kita, pokoknya mereka berdua sudah buka keran dengan gampang, untuk para provider pembayaran untuk akses ke jaringan mereka. Contohnya API mereka, kalau kamu orang IT pelajari aja, kalau punya Visa, nama-nya Visa Developer Center, untuk Mastercard langsung saja ke halaman Developers-nya. .

Ada pihak ketiga bernama Marqeta, yang sudah memudahkan solusi untuk menggunakan layanan Visa, seperti layanan virtual card untuk pengembang aplikasi.

Menurut penulis scuttleblurb, mereka bukan perusahaan yang mengatakan Visa dan Mastercard adalah pemain rakus di sini, penguasa dan menghambat para inovator fintech lainnya. Jelas, mereka adalah raksasa yang gak bisa digoyangkan yang bertanggung jawab triliunan transaksi ini, mungkin para pedagang, UMKM, pengusaha yang awam beranggapan Visa dan Mastercard selalu mengambil fee service yang gak masuk akal, yang harus dibayar, sebenarnya itu memang ditanggungkan untuk biaya memprioritaskan layanan lebih mereka value-added service, apalagi keamanan dan penipuan, sistem-nya sangat kompleks.

Di sisi lain, untuk sisi pelanggan, Visa dan Mastercard adalah jaminan nomor satu paling terpercaya untuk bertransaksi, ada reward-nya lagi. Pokoknya, selagi kereta masih jalan, Visa dan Mastercard gak hanya cemplongkan logo-nya gak hanya di kartu, apa apa yang terutama didorong inovasi digital, mereka nambah gerbong sendiri.

Ini baru part 1, part 2 nya berbayar

Source: A tour through payments: part 1 (Visa and Mastercard) - scuttleblurb

Published