Sains di balik Mengubah Kebiasaan Buruk

Pergi ke restoran FastFood misalnya, atau pergi ke minimarket seperti Indomaret. Niatnya hanya beli sesuatu yang sudah set di pikiran ku, aku hanya mau beli Roti atau Burger.

Setelah pesan depan kasir, si kasir bertanya "Gak sekalian kentang goreng nya atau sosis-nya? Sudah satu paket dengan hanya menambah 5000" Pertanyaan sederhana ini bisa melembekkan tujuan ku tadi hanya belanja apa, bahkan senyum positif-nya bisa mempengaruhi kita untuk menambah daftar pesanan dari yang direncanakan.

Kalau otak kamu sudah berhasil di-rencanakan untuk beli yang tambahan, pasti kamu akan terbiasa, itulah kenapa orang kalau beli McDonald atau KFC, rasa-nya kurang kalau gak ada French Fries. Perasaan-nya beda kalau hanya satu set Burger, tapi gak ada kentang. Karena kebiasaan masyarakat sudah melihatnya begitu.

Sama hal-nya juga dengan nonton Netflix, Kita sengaja di-fasilitaskan dengan episode selanjutnya memulai otomatis ketika deretan kredit di akhir sudah ada, biar kamu malas. Sekarang kebanyakan aplikasi, dirancang untuk memanjakan kamu, kamu gak perlu kerja dua kali bahkan sekali pun, sekali-nya masuk, tiba tiba Rekening gak sadar terpotong.

Ini adalah membentuknya kebiasaan baru, entah itu kebiasaan buruk atau bagus, tapi yang enak enak semata kebanyakan buruk. Para pemikir zaman batu seperti Aristotle sudah dari dulu menyadari ini dan mengira "Para pemikir dulu menganggap dari awal masyarakat memang orang orang baik, yang lainnya dibentuk dari kebiasaan, lain-nya lagi juga dari apa yang di-instruksikan".

Aristotle menyimpulkan kebiasaan termasuk tanggung jawab. Bentuknya seorang pria juga kreasi-nya terhadap kebiasaan, sudah jadi bagian kehidupan sehari hari.

Sekarang bagaimana keyakinan mengubahnya? Mungkin kalau aku baca baca buku piskolog, kamu harus yakin dengan diri kamu untuk self control, mengendalikan diri kamu. Mungkin pernah dengan eksperimen terkenal, seorang anak duduk di ruangan sendiri, menyuruhnya untuk tidak makan marsmallow di depan-nya. Hasilnya bisa menentukan kehidupan seorang yang pemenang atau pecundang, performa-nya di ujian nasional, sukses berkarir juga hubungan yang lain

Apakah mengubah kebiasaan buruk perlu motivasi atau komitmen yang mendalam diri kita? Contoh lain, ketika seorang pengendara mobil masuk dan langsung minggat, dia gak perlu berpikir lagi untuk memasang sabuk pengaman, menghidupkan lampu, rilis rem tangan, cek kaca spion sebelum mundur dan menginjak gas.

Tahap tahap ini sudah diluar pikiran kita, sudah tersimpan jadi satu unit memory, yang sudah di-trigger dari lingkungan sekitar kita. Ini akan membebaskan konsentrasi kita terhadap sesuatu yang butuh kesadaran perhatian kita. Seperti kesadaran berkendara,coba mengambil jarak dengan mobil motor lain, pandang sana sini kalau ada sesuatu yang ga biasa di jalan.

Di luar kesadaran mungkin kita udah men-set beberapa kebiasaan otomatis, di bagian kesadaran ada antrian proposal yang ingin mengubah kebiasaan lama atau ada yang mengantri proposal kebiasaan otomatis baru.

Di tulisan sebelumnya, aku menulis tentang ketergantungan kebiasaan buruk bersama pornografi bisa melemahkan pria. Berarti salah satu faktor berubahnya kebiasaan seseorang, dengan mengubah lingkungan sekitar mu. Kita bisa coba dengan momen terkecil, misalnya sebelum tidur, jangan bawa Smartphone kamu nemankan tidur kamu, ganti jadi flight-mode, atau matikan Wifi atau Komputer kamu dalam waktu malam, jangan terbawa suasana sendiri melulu, jangan biasakan tutup kamar kalau lagi sendiri. Lingkungan sekitar berangsur mengubah kebiasaan kamu.

Pemerintah kita sering mengutarakan suara, agar masyarakat misalnya tidak terjerumus kepada suatu kebiasaan buruk. Seperti "Merokok bisa menimbulkan kanker", atau "Buang sampah sembarangan menyebabkan banjir", Pesan pesan insentif ini belum tentu tanggap menyerang habit buruk kita, karena dari daftar aktivitas kita semua dibentuk dan diperintahkan oleh kebiasaan-nya.

Eksperimen Marsmallow tadi, yang dibawakan oleh Psikolog bernama Walter Miscel, menyimpulkan hanya satu per empat subjeks anak anak yang bisa menahan diri tidak memakan marsmallow selama lima belas menit. Bisa jadi kebanyakan kita paling susah untuk self-control atau mengendalikan diri, untuk bisa sukses di dunia ini.

Kalau aku sendiri mencoba self-contol, terutama pola makan ku, agar aku gak kebiasa makan nasi goreng setiap malam misal-nya, aku harus ada sesuatu yang bisa mengalihkan pikiran ku, biar gak tergantung mengemil di kamar,tidak ada cemilan di kamar. Jadi kebiasaan itu dipengaruhi kekuatan force yang ada di sekitar kita. Besar kekuatan force tersebut tergantung di mana kamu berada, apa saja yang ada di sekitar kamu, jam berapa, dan aktivitas kamu sebelumnya. Jadi ini soal mengendalikan situasi lingkungan sekitar-nya, bukan dorongan motivasi mengubah kebiasaan

Mereka yang berhasil bisa mengadopsi kebiasaan produktif bukan cangkupan-nya untuk menjadi lebih baik, atau mengalihkan diri-nya dari nafsu, tapi mereka yang bisa menguasai mood lingkungan-nya. Kamu bisa sukses *self-control", karena kamu menutupi biang kerok-nya.

Kalau di distrik bisnis bagaimana perusahaan berhasil mengunci kebiasaan pasar. Seorang ahli periklanan Claude C. Hopkins, pernah mengerjakan iklan untuk Pasta gigi Pepsodent, salah satu penemu komunikasi slogan dalam media periklanan. Waktu Pepsodent awal awal merintis, pada tahun 1915, sedikit sekali orang yang mau menyikat gigi, dan waktu itu para pemuka dokter gigi di era-nya menyatakan rata rata pasta gigi gak berguna. Jadi Pak Hopkins fokus terhadap pesan marketing lapisan kuning kuning yang di sela sela gigi, nama-nya plak.

Pak Hopkins bertahap membantu Pepsodent agar masyarakat menyikat gigi. Jadi Di tahun 1917, iklan-nya begini "Awal mula semua gigi bermasalah".

Kata orang dulu, kamu bisa menghilangkan kuning di celah gigi dengan makan apple, pasta gigi di zaman-nya waktu itu tidak menghapus sekali pun walau menggosoknya tanpa pasta. Tapi Pak Hopkins terus mengasih sinyal lewat iklan-nya bahwa plak kuning di gigi berbahaya dan memberitahu masyarakat hanya Peposdent satu satu-nya cara menghilangkan-nya. Slogan-nya "Berlari-lah dari lidah ke gigi-mu" terus "Anda akan merasakan ada-nya lapisan tipis -- itulah yang membuat gigi anda tidak terlihat berwarna dan mengundang kerusakan".

Gak lama tahun tahun selanjutnya, Pepsodent menjadi produk paling terkenal di dunia.

🙏🙏🙏

Thanks for reads, hope you enjoyed it, sharing this article on your favorite social media network would be highly appreciated 💖! Sawernya juga boleh

Published