Viral Positif Negatif Jadi Cerminan Kamu

Ada dua contoh konten yang lagi viral ini, aku bagi menjadi dua, viral positif dan viral negatif. Dari kedua ini mana yang lebih kamu perhatikan, mana yang lebih kamu kepo-kan, itulah cerminan pola pikir kamu.

Contoh viral negatif, isu seorang wanita Creator dan Influencer di Internet memviralkan bahwa suami-nya selingkuh dengan seorang pramugari, yang kebetulan mereka satu sama lain satu perusahaan, sampai heboh di sosial media dan sebagian negara. apalagi kalangan muda yang memperhatikan berita tersebut sangat perhatian dengan viral tersebut.

Kenapa contoh di atas aku menyebut-nya viral negatif, karena ini soal urusan rumah tangga, kalau dalam Islam, mengumbar urusan rumah tangga ke luar termasuk perbuatan dosa "Orang yang membuka aib pasangannya, Allah akan mengikatnya dengan ular besar di hari kiamat nanti". Ini bukan minta cari empati atau perhatian sama netizen, tapi kalau kata Ustadz Zaidul, "Hidup mu recehan sekali suka mengumbar aib rumah tangga sendiri, apalagi seorang istri yang membuka aib suami-nya".

Cukup Allah yang tahu tentang aib buruk suami, kelakuan buruk suami, komunikasi antara suami istri atau membicarakannya kepada ahli agama, tapi jika Istri mengumbar-nya, jadi tontonan netizen, inikan masalah kita sekarang lebih terpaku teater masalah perselingkuhan

Contoh viral positif, tahu seorang kasir Indomaret yang fasih berbahasa Jepang hanya karena hobi-nya menonton Anime?, nama-nya Vania, dia gak menyangka ketemu orang Jepang yang studi di Indonesia kebetulan dia Vlogger juga bernama kencampur. Sejak itu, mereka berdua sangat viral, banyak orang menapresiasi talenta dari Vania, gak menyangka rezeki-nya bisa membawa Vania pergi ke Jepang.

Di atas jadi inspirasi semua orang suka dengan-nya, kredibiltas brand Indomaret langsung naik daun, Vania kebetulan orang-nya juga humble dan positive vibe. Jarang banget melihat viral positif yang gak disangka sangka, bisa jadi pelajaran dan motivasi untuk kita semua. Ini law of attraction

Mungkin kalau aku lebih mendedikasikan diri ku untuk fokus satu hal misalnya, dengan menghapus Instagram ku dalam tiga bulan, mungkin aku lebih konsisten tidak melihat berita viral, mungkin aku lebih tenang tidak melihat apa yang terjadi di sekitar sekarang, mungkin tidak mengkepo dengan kehidupan orang, mungkin sehari hari ku bisa lebih bijak, mungkin aku bisa lebih banyak menghasilkan karya daripada terkecoh dengan konten yang menganggu fokus ku.

Di debat cawapres pertama, ada satu pernyataan dari calon wakil presiden nomor urut 1 ya yang jadi inspirasi ku untuk menulis ini, "Literasi sangat penting untuk pendidikan budaya masyarakat kita di dunia digital", gak salah aku itu sekilas pernyataan-nya.

Ini yang ku rasakan di sosial media, kadang kalau buka Instagram hilang tujuan-nya, yang tadi-nya mau bales DM-nya teman atau my darling, mata udah terpantul ke pos viral yang udah menguasai pikiran kita, abis itu scroll scrolling gak terasa, itulah kenapa rata rata DM-nya Instagram itu paling lama kelihatan-nya mau balas, kalau udah tenggelam di trending feed, lama lama ngepoin kehidupan orang, baca komentar netizen, ini sudah micro-toxic aku menyebut, kecil kecil habisin waktu kamu, gak punya tujuan.

Tapi cara menyikapi viral ini, bisa indikasi kecerdasan berpikir kamu, kualitas literasi kamu bisa menguji bagaimana kamu bereaksi dengan konten konten tersebut, jadi mental otak kamu lebih nyaman lihat konten recehan, atau menolak melihat berita perselingkuhan atau demen konten konten yang lebih bermakna. Bayangkan betapa susah-ya misalnya, tidak mengklik rekomendasi konten muncul aja ketika wanita cantik lagi bermodus tertentu, atau konten kata kata memancing padahal gak penting, sengaja diberi tulisan huruf huruf besar.

Baru baru ini aku menonton salah satu konten dari ustadz Zaidul, tentang mengaitkan sosial media dengan wanita zaman sekarang. Jadi Ustadz Zaidul bilang begini, wanita paling mudah masuk surga, tapi Iblis paling gak suka wanita dengan mudahnya masuk surga.

Masalahnya kata pak Ustadz, sedikit sekali wanita yang menjaga amanah-nya. Yang sedikit sedikit mengumbar aib suami-nya rumah tangga di sosial media, bisa membawa wanita masuk neraka.

Mungkin itu jadi pelajaran ku selama ini, cara kamu bereaksi dengan konten viral adalah indikasi pikiran kamu, hampir sama dengan sosial media, bagaimana saya bisa melihat sifat orang ini dari profile feed-nya.


Beberapa tulisan yang ku baca untuk mengakhiri untuk bulan Januari ini.

Kenapa orang lebih suka bikin konten bagus di platform yang banyak bemasalah Ada orang yang lebih suka menulis yang bisa jadi tulisan blog, ke thread di Twitter, ini analisa panjang, banyak beberapa faktor, seperti interaksi engagement, kebanyakan teman pakai apa

[Mungkin ada yang pernah main game ini masa kecil(https://ski.ihoc.net/) Ini game zaman aku waktu semasa SD main di lab komputer sekolah

Bagaimana cara melakukan sesuatu jika kamu tidak terlalu pintar atau tidak punya talenta

Public Server Running OS IBM

🙏🙏🙏

Thanks for reads, hope you enjoyed it, sharing this article on your favorite social media network would be highly appreciated 💖! Sawernya juga boleh

Published